Tuesday, May 15, 2012

Mencoba peruntungan

Belakangan ini merasa terlalu menghabiskan waktu di kantor yang seharusnya bisa dispend bersama Faith.
Sepertinya jadi manusia tidak pernah puas ya, dulu kerja sering lembur pingin cari kerja yang santai dan pulang tenggo.
Sekarang sudah dapat, kok merasa terlalu membuang-buang waktu di kantor ya.
Bisa gak ya kerja part-time aja? hehehe tapi belum berani mengumpulkan keberanian untuk approach boss.

Anyway, terinspirasi oleh teman smp saya Sitta Karina, dulu waktu smp kita suka tuker-tukeran cerita. Punya saya ditulis pake tangan, punya dia diketik dan dijilid.. hehe pantas saja sekarang dia sudah jadi penulis beken sementara saya sudah lama tidak menulis. Wong blog aja ditelantarkan.

Anyway, mg lalu mencoba peruntungan mengirim artikel buat rubrik Gado-Gado Femina.

Ini ceritanya:

Mamud

Ibu – ibu yang suka berseliweran di dunia maya pasti mengenal Mbak Astri Nugraha. Menurut saya Mbak Astri ini adalah sosok mama muda, atau istilah kerennya ‘mamud’ super ideal. Bagaimana tidak, ia tinggal di negeri orang, membesarkan empat anak sendiri tanpa bantuan ART atau baby sitter.

Ia juga masih sempat membuka bisnis web-design, katering, menulis resep dan meng-update blog-nya. Penampilannyapun masih terawat, cantik dan segar. Singkat kata saya ingin seperti Mbak Astri. Mampu mengurus anak, suami, rumah tapi juga tetap trendy dan bisa cari duit sendiri. Terlalu optimis ya?

Saya adalah anak bungsu dari dua bersaudara. Saudara sepupu saya rata-rata lebih tua atau sepantaran dengan saya. Karena itu saya tidak terbiasa dengan yang namanya momong bayi. Wong kalau ada anak kecil saja saya suka salah tingkah!.

Ini menjadi ketakutan terbesar saya saat hamil si Non. Saat hamil saya sibuk mencari berbagai macam video seperti cara membedong bayi, cara memandikan bayi, cara mengartikan tangisan bayi, dll. Untung saya tinggal di jaman modern dimana semua itu dapat dicari dengan mudah di YouTube.

Teman – teman yang sudah punya anak selalu menasihati saya, “Jangan terlalu dipikirin. Nanti juga bisa! Instinct keibuan bakal timbul dengan sendirinya kok!” Tapi saya selalu ragu. Saya selalu berpegangan pada prinsip fail to prepare, prepare to fail.

Jadi sebelum lahiran, saya sudah hafal luar kepala Dunstan baby language. Katanya tangisan bayi seluruh dunia mempunyai maksud yang sama. ‘Neh’ artinya lapar. ‘Owh’ artinya mengantuk. ‘Heh’ artinya tidak nyaman. ‘Eairh’ artinya perutnya ber-gas. ‘Eh’ artinya perlu disendawakan. Semuanya terdengar mudah ya? At least itu yang saya pikirkan saat itu. Wong Financial statements yang rumit saja jadi makanan saya sehari-hari di kantor, apalagi lima kata simple kayak gini.

Tak hanya itu, Teddy, boneka beruang saya, setiap malam jadi ‘kelinci percobaan’ pelajaran dari YouTube. Bedong, jumper, romper, clodi, sudah saya coba pakaikan. Kadang saya juga mendandaninya dengan bandana bunga!

Saya merasa telah mempersiapkan semuanya dengan baik. Tapi kenyataan berkata lain.

Saya ingat persis malam pertama saya dan suami membawa pulang si Non dari rumah sakit. Si Non tertidur pulas di boxnya. Saya dan suami tak henti-hentinya memandangi makhluk lucu yang dianugrahkan Tuhan kepada kami ini.

Saat itu saya merasa lelah sekali. Sejak si Non lahir saya belum bisa tertidur pulas karena masih excited mengingat detik-detik kelahiran si Non. Belum lagi saya harus terbangun malam-malam untuk memberikan ASI. Sementara siang/sorenya saya harus meladeni tamu-tamu yang datang.

Rasanya seperti baru sedetik yang lalu menutup mata, saya terbangun oleh tangisan si Non. Suami saya masih tertidur pulas. Saya mencoba mendengarkan tangisan si Non, apakah itu ‘Neh’, ‘Owh’, ‘Heh’, ‘Eairh’ atau ‘Eh’. Hmm.., agak sulit ya, tapi sepertinya terdengar seperti ‘Neh’.

Si Non kelihatan sangat fragile, tidak seperti si Teddy. Saya dengan takut-takut menggendongnya dan mencoba memberikan ASI buat si Non. Tapi si Non malah menangis lebih kencang lagi. Tangisannya kali ini berhasil membangunkan suami saya.

“Tangisannya seperti ‘Neh’ kan ya sayang? Aku udah nenenin tapi dia malah nangis tambah kenceng,” tanya saya panik.

Suami saya yang masih setengah sadar, mencari-cari notes di samping tempat tidurnya. Tidak seperti saya, dia tidak menghafal luar kepala Dunstan baby language tersebut.

“Kayanya bukan ‘Neh’ deh,” katanya. Dahinya mengernyit. “Sepertinya ‘Owh’, dia ngantuk tuh,” sambungnya pede.

“Gimana bisa mengantuk, dia kan lagi tidur!” sanggah saya gemas.

“Atau ‘Eh’ ya?” kata suami saya. “Artinya dia mau disendawakan sayang!”

“Duh kamu ya, dia kan gak abis minum susu buat apa disendawakan.” Saya makin sewot.

“Mungkin dia ngompol sayang!” kata suami saya masih berusaha membantu.

Kami lalu membuka bedongnya dan mengecek celananya. Semuanya masih kering, sehingga saya memutuskan untuk membedongnya kembali. Tapi entah kenapa semua latihan yang saya praktekan ke Teddy tidak membantu sama sekali. Tubuh si Non yang ringkih sangat berbeda dengan tubuh Teddy. Belum lagi tangisan si Non yang membuat saya semakin grogi. Saya betul-betul frustasi.

Saya kurang begitu ingat berapa kali episode tersebut terjadi di malam pertama itu. Saat si Non menangis, saya juga ingin menangis rasanya. Menangis karena frustasi, dan marah pada diri sendiri. Hormon pasca melahirkan yang tidak stabil juga tidak membantu. Kenapa mbak Astri bisa, saya tidak. Boro-boro sambil berbisnis, ini menjaga bayi di malam pertama saja tidak becus!

Malam-malam pertama si Non lahir adalah malam-malam dimana saya merasa sangat stress. Lebih stress dari saat dikejar deadline. Suami saya adalah orang yang paling sering terkena dampratan saya. Sampai sekarang saya sih masih mengkambing-hitamkan si hormon yang tidak stabil. Maaf ya sayang.

Tapi seiring berjalannya waktu saya jadi lebih mengenal dan mengerti apa yang si Non butuhkan. Benar kata teman saya, yang namanya instinct seorang ibu itu memang ada. Sering kali si Non hanya butuh tidur dalam pelukan saya. Biasanya kalau sudah begini saya juga akan ketiduran bersama si Non dalam pelukan saya. Saking capainya, terkadang BH menyusui dan daster saya masih dalam keadaan setengah terbuka. Ups!

Saya memang belum seperti mbak Astri, tapi Rome wasn’t build in a day kan?

Kira-kira dimuat gak yaa???

No comments: